Disuatu desa tinggallah
seorang ibu bernama ibu Liwon bersama anak perempuannya bernama Gejora. Mereka
hanya hidup sederhana karena kemampuannya hanya bekerja mencari kayu. Tapi
sangat disayangkan, dengan keadaannya yang sederhana, justru Gejora tidak
prihatin dengan keadaannya.
“Ibu… apa tidak ada
makanan lain? Setiap hari gejora lihat tempe… tempe lagi, bosen ah !”
“Anakku sayang… ibu
hanya mampu membeli tempe, lain kali ya… kalau sudah punya uang lebih…” kata bu
Liwon dengan sedih.
“Ah… ibu pasti
ngomongnya begitu…terus…capek dengannya…”kata gejora sambil menyenggol makanan
yang ada didepannya.
“Tidak boleh begitu
nak… kita patut bersyukur, karena sampai saat ini kita masih bisa makan”
Dengan tidak sabar gejora
pergi kedalam kamarnya,ia merebahkan diri sambil membayangkan ingin pergi dari
rumahnya. Sesaat kemudian gejora tertidur dan ia bermimpi bertemu dengan
seorang nenek yang menunjukkan tempat harta yang sangat bnyak yang berada di
dalam hutan,saat asyik bermimpi tiba – tiba
“tok…tok…tok…”.suara
pintu berbunyi.
“gejora…bangun…”
panggil ibu
“ Kayu sudah Ibu
siapkan, maukah kamu mengantarkan ke pak Jali? Karena beliau pesan kayu bakar
nak! Nanti hasilnya bias kau ambil untuk uang jajanmu” kata Ibu Liwon merayu
Gejora. Tapi Gejora tidak mendengarkan ibunya, ia tetap saja di dalam kamar.
“Aduh… kacau… padahal
aku hamper tau dimana letak harta itu.” Kata Gejora berkhayal.
Malam berganti pagi,
Gejora bangun sangat pagi sekali. Ia berniat untuk pergi dari rumh, tanpa ijin
ia melangkahkan kaki keluar rumah. Di tengah jalan, Gejora bertemu dengan
seorang nenek tua seperti yang ada di dalam mimpinya.
“ah… bukankah nenek itu
yang dating dalam mimpiku? “Gejora sangat kaget dan ia datang mendekati nenek
tua.
“Hai nek… hendak
kemana?” Tanya Gejora
“Mau keseberang nak…
memangnya anak mau kemana? Kok sepertinya bingung?”
“Ya nek saya ingin
sekali kaya… karena sudah lama miskin, bosan…? Jadi mau mencari-cari, memangnya
nenek tahu tidak, dimana tempat harta berada?” kata Gejora penuh pasti kalau
nenek itu yang datag dalam mimpinya.
“He… he… he... ya nenek
tahu… tapi tempatnya jauh nak… memangnya anak mau kesana?”
“Iya nek saya mau… yang
penting banyak uang…” kata Gejora penuh harap.
Akhirnya nenek itu menunjukkan tempat
harta itu berada jauh ditengah hutan.
”Tapi ada syaratnya
nak… kamu hanya boleh mengambil harta itu sebanyak setengah kantung ini.” Kata
nenek sambil memberikan kantung putih.
“Oh tenang saja aku
pasti akan menepati janjiku.” Tanpa pikir panjang Gejora langsung berangkat
kearah hutan itu.
Gejora tiba ditengah
hutan, banyak sekali suara binatang buas menyeramkan, membuat bulu kuduk gejora
berdiri, hi… seram… Gejora berhenti sejenak memandangi sekitar hutan itu. “Oh
kemana sekarang ya… kok tidak ada tanda-tanda harta itu.” Tiba-tiba Gejora
dikejutkan oleh seekor singa yang sangat besar. “Haummmm… siapakah engkau nak?”
Harimau itu bersuara.
“Hah… kau bias
berbicara?” Gejora benar-benar kaget, tapi heban Gejora tidak takut. Ia
mendekati singa itu. “Hai singa… Pasti kau tahu dimana tempat harta itu? Karena
kau mampu berbicara, pasti engkau ya yang menjaga harta itu?” kata Gejora
yakin.
“Oh… jadi kau dating ke
hutan ini untuk mencari harta? Ya aku tahu karena aku yang menjaganya.”
“Kalau begitu cepat
antar aku, aku sudah tidak sabar lagi.”
“Huahahaha…hauumm… bias
saja, tapi apakah kau bertemu dengan seorang nenek tua yang memberikan kantung
putih?” Tanya singa itu.
“Iya… ini kantungnya,
memangnya kenapa?” Tanya Gejora pura-pura tidak tahu.
“Kau akan ku antar,
tetapi hanya boleh membawa harta itu setengah kantung saja. Jika kau melanggar,
kau akan merasakan akibatnya.”singa itu menjelaskan.
Kemudian singa membawa
gejora ke gua tempat harta berada harta itu. Tak jauh mereka sampai depan gua.
Setelah mengingatkan kembali syarat untuk Gejora, lalu singa itu pergi
meninggalkan Gejora. Bagaimana dengan Gejora? Dia langsung masuk kedalam gua
dan…” Wah… berlian, emas…, koin emas, intan..Wah aku kaya…” teriak Gejora
sambil memasukkan harta itu kedalam kantung. Setelah asyik memasukkan, kemudian
ia ingat kalau kantungnya hampir penuh . “Oh iya… pesan singa dan nenek itu aku
harus membawa setengah kantung ini, e... tapi gak papa ah yang penting kan
harta ini gak habis, mereka tidak akan tau, harta ini kan banyak.
setelah itu gejora keluar
dari gua dan langsung pergi hendak pulang kerumah. Tapi di tengah jalan Gejora
bertemu dengan nenek tua.
“ Hai Gejora..apakah
kau sudah menemukan harta itu?tanya nenek itu.
“ Ya nek aku sudah
mendapatkannya dan akan membawa harta ini,” dengan tersenyum senang Gejora
hendak pergi.
“ Stop..! tapi
sepertinya kau tidak menepati janjimu. Kantung itu mengapa penuh?”
“ Aah tidak apa-apa kan
nek, yang penting aku tidak membawanya semua, di sana masih banyak, tidak akan
habis.” Kata Gejora.
“ Kau rakus.. kau memang
tidak pernah bersyukur! Baiklah kini kau rasakan akibatnya, hiduplah kau dengan
intan berlianmu itu dilangit!” Nenek itu menyumpahi Gejora, dan sesaat kemudian
angin kencang, langit bersinar dan ..cuing… Gejora hilang, hilang tanpa bekas.
Di tempat lain, ibu
Gejora menangis mencari Gejora yang telah pergi menghilang. Ibu Liwon terus
mencari dan suatu hari bertemu dengan
nenek tua.
“ Ibu Liwon…siapa yang
anda cari?” Tanya nenek tua.
“ Mengapa kau tau
namaku? Aku mencari anakku Gejora”kata ibu Liwon.
“ Kau tidak peru
mencari Gejora, karena dia sudah berada ditempat jauuh sekali”
“ Apa maksud nenek?
Gejora mati?” Tanya ibu Liwon kaget.
“ Tidak! Karena
kerakusannya ia berada di langit, dan jika kau ingin melihatnya, keluarlah di
malam hari dan tatap bintang di langit, itulang bintang gejora yang paling
terang bersama intan berliannya.”
Ibu Liwon sangat sedih
dan menyesal akan perbuata anak tercintanya yaitu Gejora. Akhirnya setiap malam
ibu Liwon hanya bisa menatap kelangit melihat bintang Gejora. Gejora pun merasa
menyesal dengan perbuatannya, ia hanya bisa menangis di malam hari dengan
mengeluarkan titik embun. Tapi nasi sudah menjadi bubur Gejora tidak bisa
kembali ke pelukan ibunya.

waah keren.....
BalasHapusditunggu ceritanya yang lain :)
Mantap
BalasHapusLanjutkeun ��
BalasHapusAsiiiik
BalasHapus