Minggu, 26 April 2020

BINTANG GEJORA


Disuatu desa tinggallah seorang ibu bernama ibu Liwon bersama anak perempuannya bernama Gejora. Mereka hanya hidup sederhana karena kemampuannya hanya bekerja mencari kayu. Tapi sangat disayangkan, dengan keadaannya yang sederhana, justru Gejora tidak prihatin dengan keadaannya.
“Ibu… apa tidak ada makanan lain? Setiap hari gejora lihat tempe… tempe lagi, bosen ah !”
“Anakku sayang… ibu hanya mampu membeli tempe, lain kali ya… kalau sudah punya uang lebih…” kata bu Liwon dengan sedih.
“Ah… ibu pasti ngomongnya begitu…terus…capek dengannya…”kata gejora sambil menyenggol makanan yang ada didepannya.
“Tidak boleh begitu nak… kita patut bersyukur, karena sampai saat ini kita masih bisa makan”
Dengan tidak sabar gejora pergi kedalam kamarnya,ia merebahkan diri sambil membayangkan ingin pergi dari rumahnya. Sesaat kemudian gejora tertidur dan ia bermimpi bertemu dengan seorang nenek yang menunjukkan tempat harta yang sangat bnyak yang berada di dalam hutan,saat asyik bermimpi tiba – tiba
“tok…tok…tok…”.suara pintu berbunyi.
“gejora…bangun…” panggil ibu
“ Kayu sudah Ibu siapkan, maukah kamu mengantarkan ke pak Jali? Karena beliau pesan kayu bakar nak! Nanti hasilnya bias kau ambil untuk uang jajanmu” kata Ibu Liwon merayu Gejora. Tapi Gejora tidak mendengarkan ibunya, ia tetap saja di dalam kamar.
“Aduh… kacau… padahal aku hamper tau dimana letak harta itu.” Kata Gejora berkhayal.
Malam berganti pagi, Gejora bangun sangat pagi sekali. Ia berniat untuk pergi dari rumh, tanpa ijin ia melangkahkan kaki keluar rumah. Di tengah jalan, Gejora bertemu dengan seorang nenek tua seperti yang ada di dalam mimpinya.
“ah… bukankah nenek itu yang dating dalam mimpiku? “Gejora sangat kaget dan ia datang mendekati nenek tua.
“Hai nek… hendak kemana?” Tanya Gejora
“Mau keseberang nak… memangnya anak mau kemana? Kok sepertinya bingung?”
“Ya nek saya ingin sekali kaya… karena sudah lama miskin, bosan…? Jadi mau mencari-cari, memangnya nenek tahu tidak, dimana tempat harta berada?” kata Gejora penuh pasti kalau nenek itu yang datag dalam mimpinya.
“He… he… he... ya nenek tahu… tapi tempatnya jauh nak… memangnya anak mau kesana?”
“Iya nek saya mau… yang penting banyak uang…” kata Gejora penuh harap.
Akhirnya nenek itu menunjukkan tempat harta itu berada jauh ditengah hutan.
”Tapi ada syaratnya nak… kamu hanya boleh mengambil harta itu sebanyak setengah kantung ini.” Kata nenek sambil memberikan kantung putih.
“Oh tenang saja aku pasti akan menepati janjiku.” Tanpa pikir panjang Gejora langsung berangkat kearah hutan itu.
Gejora tiba ditengah hutan, banyak sekali suara binatang buas menyeramkan, membuat bulu kuduk gejora berdiri, hi… seram… Gejora berhenti sejenak memandangi sekitar hutan itu. “Oh kemana sekarang ya… kok tidak ada tanda-tanda harta itu.” Tiba-tiba Gejora dikejutkan oleh seekor singa yang sangat besar. “Haummmm… siapakah engkau nak?” Harimau itu bersuara.
“Hah… kau bias berbicara?” Gejora benar-benar kaget, tapi heban Gejora tidak takut. Ia mendekati singa itu. “Hai singa… Pasti kau tahu dimana tempat harta itu? Karena kau mampu berbicara, pasti engkau ya yang menjaga harta itu?” kata Gejora yakin.
“Oh… jadi kau dating ke hutan ini untuk mencari harta? Ya aku tahu karena aku yang menjaganya.”
“Kalau begitu cepat antar aku, aku sudah tidak sabar lagi.”
“Huahahaha…hauumm… bias saja, tapi apakah kau bertemu dengan seorang nenek tua yang memberikan kantung putih?” Tanya singa itu.
“Iya… ini kantungnya, memangnya kenapa?” Tanya Gejora pura-pura tidak tahu.
“Kau akan ku antar, tetapi hanya boleh membawa harta itu setengah kantung saja. Jika kau melanggar, kau akan merasakan akibatnya.”singa itu menjelaskan.
Kemudian singa membawa gejora ke gua tempat harta berada harta itu. Tak jauh mereka sampai depan gua. Setelah mengingatkan kembali syarat untuk Gejora, lalu singa itu pergi meninggalkan Gejora. Bagaimana dengan Gejora? Dia langsung masuk kedalam gua dan…” Wah… berlian, emas…, koin emas, intan..Wah aku kaya…” teriak Gejora sambil memasukkan harta itu kedalam kantung. Setelah asyik memasukkan, kemudian ia ingat kalau kantungnya hampir penuh . “Oh iya… pesan singa dan nenek itu aku harus membawa setengah kantung ini, e... tapi gak papa ah yang penting kan harta ini gak habis, mereka tidak akan tau, harta ini kan banyak.
setelah itu gejora keluar dari gua dan langsung pergi hendak pulang kerumah. Tapi di tengah jalan Gejora bertemu dengan nenek tua.
“ Hai Gejora..apakah kau sudah menemukan harta itu?tanya nenek itu.
“ Ya nek aku sudah mendapatkannya dan akan membawa harta ini,” dengan tersenyum senang Gejora hendak pergi.
“ Stop..! tapi sepertinya kau tidak menepati janjimu. Kantung itu mengapa penuh?”
“ Aah tidak apa-apa kan nek, yang penting aku tidak membawanya semua, di sana masih banyak, tidak akan habis.” Kata Gejora.
“ Kau rakus.. kau memang tidak pernah bersyukur! Baiklah kini kau rasakan akibatnya, hiduplah kau dengan intan berlianmu itu dilangit!” Nenek itu menyumpahi Gejora, dan sesaat kemudian angin kencang, langit bersinar dan ..cuing… Gejora hilang, hilang tanpa bekas.
Di tempat lain, ibu Gejora menangis mencari Gejora yang telah pergi menghilang. Ibu Liwon terus mencari  dan suatu hari bertemu dengan nenek tua.
“ Ibu Liwon…siapa yang anda cari?” Tanya nenek tua.
“ Mengapa kau tau namaku? Aku mencari anakku Gejora”kata ibu Liwon.
“ Kau tidak peru mencari Gejora, karena dia sudah berada ditempat jauuh sekali”
“ Apa maksud nenek? Gejora mati?” Tanya ibu Liwon kaget.
“ Tidak! Karena kerakusannya ia berada di langit, dan jika kau ingin melihatnya, keluarlah di malam hari dan tatap bintang di langit, itulang bintang gejora yang paling terang bersama intan berliannya.”
Ibu Liwon sangat sedih dan menyesal akan perbuata anak tercintanya yaitu Gejora. Akhirnya setiap malam ibu Liwon hanya bisa menatap kelangit melihat bintang Gejora. Gejora pun merasa menyesal dengan perbuatannya, ia hanya bisa menangis di malam hari dengan mengeluarkan titik embun. Tapi nasi sudah menjadi bubur Gejora tidak bisa kembali ke pelukan ibunya.

4 komentar:

KUE BOLU UNTUK NENEK

Sinopsis Dongeng Judul : “Kue Bolu Untuk Nenek” Karya : Ludfi Dian Wahyuni G. Seorang anak bernama Dina hendak berkunjung rumah ...